Jumat, 12 Agustus 2016

menuntut ilmu agama bagi wanita, wajibkah?


Sudah menjadi keharusan bagi para wanita agar mereka peduli dengan ilmu agama islam
dan agar mereka menuntut ilmu syari. Ibnu Jauziyah rhahimahullah menulis risalah dalam hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan, 

berkata rahimahullah :
sebab dikhususkannya hukum-hukum ini adalah karena mereka para wanita tidak mengetahui hukum-hukum dan mereka juga para wanita banyak yang mengikuti hawa nafsu mereka. Aku wasiatkan kepada saudariku sesama muslim agar setiap wanita semangat dalam menuntut ilmu agama islam karena di dlm ilmu agama islam ada yg wajib untuk dipelajari, Tidak ada udzur baginya untuk tidak belajar, yaitu berkaitan dengan tauhid dan hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat serta hal2 yang harus diketahui seorang hamba dalam ibadahnya, seperti shalat, wudhu dll

Allah tabaraka wata'ala berfirman:
Allah angkat derajat org2 beriman diantara kalian dan org2 yg diberi ilmu beberapa derajat (Q.S Al Mujadallah :11) dan juga berfirman :
Katakan apakah sama org yang mengetahui dan org yg tidak tahu? (Az-zumar:9)

hadist riwayat bukhari dan muslim melalui sahabat muawiyah bin abu sufyan:

Berkata Rasulullah barang siapa yang Allah hendaki baik maka Allah jadikan dia faham terhadap agama dan berapa banyak dari kaum hawa yang tinggi derajatnya karena mereka menuntut ilmu. contohnya ummul mukminin Aisyah Radialahu 'anhuma dan setelah itu para wanita kaum anshor , mereka semangat dalam menuntut ilmu diriwayatkan oleh imam Bukhari dan muslim bahwa aisyah berkata "sungguh sebaik-baik wanita adalah wanitanya kaum anshor, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama mereka

Wahai saudariku jadikanlah ibunda kita aisyah r.s sebagai suri tauladan kalian dalam keungguhan dalam mencari ilmu, dan juga para sahabat2 dari kalangan wanita lain seperti wanita kaum anshor sebagai qudwah dalam keungguhan kalian mencari ilmu agama dan untuk mendapatkan ilmu alhamdulillah banyak cara dan mudah didapatkan dizaman sekarang, 

#Disadur dari sebuah video 

baiklah saudariku bukankan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan bahwa Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya?
Generasi yang hebat akan dilahirkan dan dididik oleh wanita yang cerdas, tidakkah kita ingin generasi penerus islam mengukir kembali sejarah  peradaban islam?



Selasa, 30 April 2013

laporan praktikum


BAB I
          PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ester merupakan senyawa yang penting dalam industri. Ester merupakan turunan asam karboksilat dimana gugus – OH pada asam karboksilat (RCOOH) diganti menjadi gugus –R ( alkil ) sehingga menjadi ester dengan rumus RCOOR. Ester memiliki bau yang sangat khas yaitu berbau yang cukup menyengat terutama berbau harum. Oleh karena sifatnya itu ester banyak dimanfaatkan oleh manusia, baik yang diekstrak langsung dari tumbuh-tumbuhan dan hewan ataupun disintetis melalui reaksi-reaksi kimia. Etil asetat disintesis melalui reaksi esterifikasi Fischer dari asam asetat dan etanol, biasanya disertai katalis asam seperti asam sulfat.
CH3CH2OH + CH3COOH         CH3COOCH2CH3+ H2O
Reaksi diatas merupakan reaksi reversibel dan menghasilkan suatu kesetimbangan kimia. Oleh karena itu, rasio hasil dari reaksi diatas menjadi rendah jika air yang terbentuk tidak dipisahkan. Di laboratorium, produk etil asetat yang terbentuk dapat dipisahkan dari air dengan menggunakan aparatus  Dean-Stark. Etil asetat dapat dihidrolisis pada keadaan asam atau basa menghasilkan asam asetat dan etanol kembali. Katalis asam seperti asam sulfat dapat menghambat hidrolisis karena berlangsungnya reaksi kebalikan hidrolisis yaitu esterifikasi Fischer. Untuk memperoleh rasio hasil yang tinggi, biasanya digunakan asam kuat dengan proporsi stoikiometris, misalnya natrium hidroksida.
Etil asetat merupakan salah satu jenis pelarut yang memiliki rumus molekul CH3COOC2H5.  Produk turunan ini memiliki kegunaan yang banyak seperti pengaroma dan pemberi rasa. Pada skala industri, etil asetat diproduksi dari reaksi esterifikasi antara asam asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH)  dengan bantuan katalis dalam suasana asam (H2SO4).
Selain melalui reaksi di atas, etil asetat juga diproduksi secara komersil melalui reaksi antara etilen dan asam asetat. Namun, dari sisi keekonomian, etil asetat dari etanol dan asam asetat lebih kompetitif.
Saat ini etil asetat di Indonesia diproduksi oleh dua perusahaan, yaitu PT. Indo Acidatama Tbk dan PT. Showa Esterindo Indonesia, dengan jumlah total produksi sebesar 62.500 ton per tahun. (CIC, 2009)

1.2  Tujuan
·      Mempelajari reaksi esterifikasi terhadap asam karboksilat.
·      Membuat etil asetat dalam skala labor.





BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.   Pengertian Ester
Ester diturunkan dari asam karboksilat dengan mengganti gugus OH dengan gugus OR (R adalah gugus alkil atau aril). Ester merupakan senyawa organik yang bersifat netral, tidak bereaksi dengan logam Na dan PCl3.  Ester merupakan salah satu turunan asam karboksilat yang di dapat dengan cara mereaksikan asam karboksilat dengan alkohol sehingga membentuk ester  dan hasil samping berupa air. Ester yang terdiri dari asam-asam yang berat molekul rendah dan alkohol merupakan senyawa-senyawa cair yang tidak berwarna, sedikit larut dalam air dengan bau semerbak, dan mudah menguap. Ester dari beberapa asam karboksilat dengan rantai panjang terdapat secara alamiah di dalam lemak,lilin, dan minyak.
Tabel 2.1 Rumus Umum dan Struktur As.Karboksilat dan Ester
Kelompok Senyawa
Gugus Fungsi
Rumus Umum
Asam Karboksilat
-COOH
R-COOH
Ester
             -COO-
R-COOR’
Sumber : Fessenden (1982)
2.2 Sifat-sifat Ester
            Ester merupakan senyawa turunan asam karboksilat yang memiliki sifat maupun karekteristik tertentu seperti senyawa-senyawa lainnya. Ester dengan jumlah atom Karbon sedikit atau rantai yang pendek memiliki sifat mudah menguap dan berwujud cair. Sedangkan ester dengan rantai yang panjang ditemukan pada minyak (berwujud cair) dan lemak (padat) yang merupakan senyawa triester. Minyak dan lemak tidak larut dalam air tetapi larut dalam benzena, eter dan CS2. Berikut ini penjelasan tentang sifat kimia dan sifat fisika dari senyawa ester.

2.2.1 Sifat-sifat fisika ester
1. Senyawa cair yang tidak berwarna
2. Sedikit larut dalam air
3. Bau semerbak
4. Mudah menguap
2.2.2        Sifat kimia ester
1.                  Pada umumnya mempunyai bau yang harum, menyerupai bau buah-
buahan
2.                  Senyawa ester pada umumnya sedikit larut dalam air
3.                  Ester lebih mudah menguap dibandingkan dengan asam atau alkohol
            pembentuknya
4.                  Ester merupakan senyawa karbon yang netral
5.                  Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis
Penamaan ester hampir menyerupai dengan penamaan basa.walaupun tidak benar-benar mempunyai kation dan anion, namun memiliki kemiripan dalam sifat lebih elektropositif dan keelektronegatifan. Suatu ester dapat dibuat sebagai produk dari suatu reaksi pemadatan pada suatu asam (pada umumnya suatu asam organik) dan suatu alkohol atau campuran zat asam karbol,walaupun ada cara-cara lain untuk membentuk ester. Pemadatan adalah suatu jenis reaksi kimia di mana dua molekul bekerja sama dan menghapuskan suatu molekul yang kecil, dalam hal ini dua gugus OH yang merupakan hasil eliminasi suatu molekul air. Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H­+. Asam belerang sering digunakan sebagai sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini. Ester dapat dibuat oleh suatu reaksi keseimbangan antara suatu alkohol dan suatu asam karbon.





2.3 Esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H+ . asam belerang sering digunakan sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini. Nama ester berasal dari essig-ather jerman, sebuah nama kuno untuk menyebut etil asam cuka ester (asam cuka etil).
Ester dapat dibuat oleh suatu reaksi keseimbangan antara suatu alkohol dan asam karbon. Ester dinamai menurut alkil dari alkohol dan kemudian alkanoat (bagian asam karbon). Sebagai contoh, reaksi anatara asam metanol dan asam buttir menghasilkan ester metil butir C3H7-COO-CH3 seperti halnya air. Senyawa  paling sederhana adalah H-COO-CH3,metil metanoat. Karena ester dari asam yang lebih tinggi, alkana menyebut dengan - oat pada akhiran. Secara umum Ester dari asam berbau harum meliputi benzoat seperti metil benzoat. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol.
Laju esterifikasi suatu asam karboksilat bergantung pada halangan sterik dalam alkohol dan asam karboksilatnya. Kuat asam dari asam karboksilat hanya memainkan peranan kecil dalam laju pembentukkan ester. Seperti kebanyakan reaksi aldehida dan keton, esterifikasi suatu asam karboksilat berlangsung melalui serangkaian tahap protonasi dan detonasi. Oksigen karbonil diprotonasi, alkohol nukleofilik menyerang karbon positif dan eliminasi air akan menghasilkan ester yang dimaksud seperti reaksi singkat
Gambar 2.1 Reaksi Pembentukan Etil Asetat (Clark, 2007)
Faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi adalah waktu reaksi, pengadukan, katalisator,dan suhu reaksi.
1.         Pencampuran
Dengan adanya pengadukan pada saat pencampuran,molekul-molekul pereaktan dapat mengalami tumbukan yang lebih sering sehingga reaksi dapat berjalan secara optimal
2.         Katalis
Adanya katalisator dalam reaksi dapat mempercepat jalannya suatu reaksi. Kereakifan dari katalis  bergantung dari jenis dan konsentrasi yang digunakan.
3.      Waktu reaksi
Jika waktu bereaksi lama maka kesempatan molekul-molekul pertumbukan semakin sering.
 Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi arah kesetimbngan yaitu :
·         Konsentrasi
Jika konsentrasi zat reaktan diperbesar, reaksi akan bergeser ke kanan, begitu juga sebaliknya jika diperkecil reaktan maka kesetimbangan akan bergeser ke rekatan itu sendiri
·         Suhu
Jika suhu dinaikkan, kesetimbngan akan bergeser ke rekasi endoterm. Jika diturunkan suhunya maka kesetimbangan terjadi pada reaksi endoterm
·         Volume
Jika volume reaktan diperbesar kesetimbangan akan berada pada  koefisien yang besar, begitu juga sebelumnya.
·         Tekanan
Jika tekanan diperbesar, kesetimbangan berada paa koefisien yang kecil.
Proses esterifikasi dalam industri dapat dilakukan secara kontinyu maupun batch. Pemilihan kedua macam proses tersebut tergantung pada kapasitas produksinya. Untuk kapasitas produksi yang relatif kecil sebaiknya jenis yang digunakan adalah proses batch. Sedangkan proses esterifikasi kontinyu dipilih untuk kapasitas produksi yang relatif besar.

2.3.1 Cara-Cara Lain untuk Membuat Ester
1). Pembuatan Ester dari Alkohol dan Asil Klorida (Klorida Asam)
Jika kita menambahkan sebuah asil klorida kedalam sebuah alkohol , maka reaksi yang terjadi cukup proresif pada suhu kamar menghasilkan sebuah ester dan awan-awan dari asap hidrogen yang asam dan beruap.Sebagai contoh, jika kita menambahkan etanol klorida kedalam etanol,maka akan terbentuk bannyak hydrogen klorida bersama dengan ester cair etil etanoat.
CH3COCl + CH3CH2OH               CH3COOCH2CH3 + HCl

2). Pembuatan Ester dari Alkohol dan Anhidrada Asam
Reaksi-reaksi dengan anhidrida asam berlangsung lebih lambat dibanding reaksi-reaksi yang serupa dengan asil klorida, dan biasanya campuran reaksi yang terbentuk perlu dipanaskan. Reaksi berlangsung lambat pada suhu kamar (atau lebih cepat pada pemanasan). Tidak ada perubahan yang bisa diamati pada cairan yang tidak berwarna, tetapi sebuah campuran etil etanoat dan asam etanoat terbentuk.
(H3CO)2O+CH3CH2OH               CH3COOCH2CH3 + CH3COOH
Reaksi esterifikasi Fischer adalah reaksi pembuntukan ester dengan cara merefluks sebuah asam karboksilat bersama sebuah alkohol dengan katalis asam. Asam yang digunakan sebagai katalis biasanya biasanya adalah asam sulfat atau asam Lewis seperti skandium (III) triflat.
Pembentukan ester melalui asilasi langsung asam karboksilat terhadap alkohol , seperti pada esterifikasi Fischer lebih disukai ketimbang asilasi dengan anhidrarida asam atau asil klorida. Kelemahan utama asilasi langsung adalah konstanta kesetimbangan kimia yang rendah. Hal ini harus diatasi dengan menambahkan banyak asam karboksilat, dan pemisahan air yang menjadi hasil reaksi. Pemisahan air dilakukan melalui distilasi Dean -Stark atau penggunaan saringan molekul.
Mekanisme reaksi esterifikasi Fischer terdiri dari beberapa langkah.
1.                  Transfer proton dari katalis asam ke atom oksigen karbonol, sehingga
meningkatkan elektrofilisitas dari aatom karbon karbonil
2.                  Atom karbon karbonil kemudian diserang atom oksigen dari alkohol, yang
bersifat nukleofilik sehingga terbentuk ion oksonium.
3.                  Terjadi pelepasan proton dari gugus hidroksil milik alkohol, menghasilkan
kompleks teraktivasi.
4.                  Protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil, yang diikuti pelepasan molekul air menghasilkan ester.
2.3.2 Pembuatan Ester Berdasarkan Volatilitas.
Golongan  proses dalam  pembuatan ester berdasarkan volalitas.
·         Golongan 1
 `          Dengan ester yang sangat mudah menguap, seperti metal format, metal asetat,dan etil format, titik didih ester lebih rendah dari pada alcohol, oleh karena itu ester seger dapat dihilangkan dari campuran reaksi. Produk metal asetat dengan metode distilasi bachaus merupakan sebuah contoh dari golongan ini. Methanol dan asam asetat diumpankan ke dalam kolom distilasi dan ester segera dipisahkan sebagai campuran uap dengan methanol dari bagian atas kolom. Air terakumulasi di dasar tangki dan selanjutnya dibuang. Ester dan alcohol dipisahkan lebih lanjut dalam kolom distilasi yang ke dua.
·         Golongan 2
Ester dengan kemampuan menguap sebaiknya dipisahkan dengan cara menghilangkan air yang terbentuk secara distilasi. Dalam beberapa hal, campuran terner dari alkohol, air, dan ester dapat terbentuk. Kelompok ini layak untuk di pisahkan lebih lanjut dengan etil asetat, semua bagian ester di pindahkan sebagai campuran uap dengan alcohol dan sebagian air, sedangkan sisa air akan terakumulasi dalam system. Dengan butil asetat, semua bagian air di pindahkan ke bagian atas dengan sedikit bagian dari ester dan alcohol, sedangkan sisa ester terakumulasi dalam sistem
·         Golongan 3
Ester yang mempunyai volatilitas rendah, beberapa kemunungkinan timbul. Dalam hal butil dan amil alkohol, air dipisahkan sebagai campuran binet dengan alkohol. Contoh proses untuk tipe seperti ini adalah pembuatan dibutil ftalat. Untuk menghasilkan ester dari alkohol yang lebih pendek (metal, etil,propel) dibutuhkan penambahan hidrokarbon seperti benzene dan toluene untuk memperbesar air yang terdistilasi, dengan alkohol, bertitik didih tinggi (benzyl,furfural,b-feniletil) suatu cairan tambahan selalu diperlukan untuk menghilangkan kandungan air dari campuran.
2.3.3        Kegunaan Ester
Ester banyak digunakan dalam kehiduapn sehari-hari antara lain :
1.      Etil asetat digunakan sebagai pelarut pada industri cat, tiner, tinta,
 plastic, farmasi dan industri kimia organik
2.      Amil asetat banyak digunakan sebagai pelarut untuk damar dan lak
3.      Esterifikasi etilen glikol dengan asam bensen 1.4 dikarboksilat
            menghasilkan poliester yang digunakan sebagai bahan pembuat kain.
4.      Ester banyak digunakan sebagai esen  
pada makanan
2.4 Reaksi-Reaksi Ester
2.4.1. Hidrolisis
Secara teknis, hidrolisis adalah sebuah reaksi dengan air. Reaksi inilah
yang sebenarnya terjadi ketika ester dihidrolisis dengan air atau dengan
asam encer seperti asam hidroklorat encer.
2.4.2.  Ammonolisis
Reaksi antara ester dengan ammonia menghasilkan suatu amida disebut
Amonolisis. Reaksi ammonolisis tidak memerlukan katalis.






2.4.3.Transesterifikasi
Reaksi antara ester dengan alkohol menghasilkan ester baru dengan gugus
alkil (pada oksigen karbonil) dari alkohol yang baru. Pada reaksi ini terjadi
substitusi gugus alkil pada oksigen karbonil ester.
2.4.4.  Reaksi dengan pereaksi Grignard
Ester bereaksi dengan pereaksi Grignard membentuk suatu keton.


Gambar 2.2 Reaksi Grignard (Riswiyanto, 2009)
2.5. Etil Asetat
2.5.1. Mekanisme Pembentukan Etil Asetat
Proses protonasi sangat dibutuhkan dalam reaksi pembentukan etil asetat karena dapat menaikan muatan positif pada atom karbon karbonil. Tanpa adanya H+, oksigen yang terikat pada C karbonil memiliki keelektornegatifan yang besar sehingga adanya efek imbas indeks dapat menyebabkan C karbonil berkurang keelektronegatifannya karena O akan cenderung memberikan elektronegatifan. Akan tetapi dengan adanya protonasi pada oksigen karbonil menyebabkan oksigen lebih cenderung memberikan elektron pada H+ sehingga muatan positif dari karbon karbonil meningkat dan menyebabkan keadaan yang baik penyerangan nukleofilik. Dimana yang bertindak sebagai gugus nukleofilik di sini adalah gugus OH dari etanol. Gugus OH merupakan gugus masuk yang baik sehingga akan menyerang karbon karbonil pada asam asetat yang telah terprotonasi.




 




Gambar 2.4 Proses Protonasi (Riswiyanto 2009)
Pada tahap ini terjadi adisi nukloefilik, yakni gugus OH (pada etanol) kemudian terjadi ikatan C-O yang baru atau ikatan ester baru. Setelah adisi nukleofilik maka reaksi dilanjutkan dengan deprotonasi/penghilangan gugus H+ pada ikatan ekster yang baru. Deprotonasi ini dilakukan dengan tujuan untuk membentuk ikatan C-O yang stabil




Gambar 2.4 Adisi Nukleofilik, (Riswiyanto 2009)
Karena digunakan katalis asam dari reaksi akan terbentuk kembali H+. hal ini memberikan peluang untuk terjadinya protonasi. Protonasi ini sangat di butuhkan karena melihat bahwa OH pada gugus asam asetat merupakan gugus pergi yang jelek karna OH memiliki keelektonegatifan sehingga kemampuan untuk terikat pada C yang parsial (+) sangat besar (karena adanya perbedaan momen dipol menyebabkan OH enggan pergi). Untuk itu dibutuhkan protonasi hingga terbentuk +OH2 yang merupakan gugus pergi yang baik.

 




Gambar 2.5 Protonasi (Riswiyanto 2009)
Pada tahap akhir dari reaksi ini adalah lepasnya air dan putusnya ikatan  C-O akan tetapi karena reaksi ini merupakan kesetimbangan maka air yang dilepaskan akan menyerang kembali gugus karbonil yang terprotonasi. Ester yang dihasilkan (yang berprotonasi) akan melepaskan protonnya dan membentuk etil asetat/etil etanoat sebagai produk akhir.
2.6    Etanol

Etanol disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut atau alkohol saja adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tidak berwarna dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari – hari. Etanol adalah suatu obat rekreasi yang paling tua. Etanol banyak digunakan sebagai pelarut sebagai bahan – bahan kimia yang di tunjukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat–obatan. Dalam kimia etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya ethanol telah lama di gunakan sebagai bahan bakar. Sifat fisika dan kimia etanol sebagai berikut. Etil asetat juga mempunyai Rumus molekul etanol C2H5OH atau rumus empiris C2H6O. Sifat-sifat  fisik Etanol antara lain :
1.      Massa molekul relatif              :  46,07 gr/mol.
2.      Titik beku                                : -114,1oC.
3.      Titik didih normal                   :  78,32oC.
 Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan dengan gugus Hidroksil paling tidak memiliki 2 Hidrogen atom yang terikat dengannya juga. Reaksi kimia yang dijalankan oleh ethanol kebanyakan pada fungsi gugus Hidroksil.

2.7   Asam Sulfat ( H2SO4 )
Asam Sulfat ( H2SO4 ) merupakan asam mineral ( Anorganik ) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan, asam sulfat mempunyai kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan SO3 pada titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% lebih stabil untuk disimpan dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98% pada umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Berikut adalah sifat-sifat asam sulfat. Sifat – sifat Asam Sulfat ialah :
1.      Nama sintesis              : Asam sulfat
2.      Rumus molekul           : H2SO4
3.      Massa molar                : 98,078 gr/mol
4.      Penampilan                  : Bening, tidak berwarna, tidak berbau
5.      Densitas                      : 1,84 gr/cm3 , cairan
6.      Titik leleh                    : 10oC, 283 K, 50o F
7.      Titik didih                   : 290o C, 563oK, 554oF
8.      Kelarutan dalam air     : Bercampur penuh
9.      Viskositas                    : 26,7 CP pada 20oC        
10.  Klasifikasi                   : Sangat korosif
11.  Titik nyala                   : Tak ternyalakan

2.8     Asam Asetat
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni ( asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat yang larut dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain.
Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.
Sifat-sifat dari Asam Asetat ialah :
1.             Nama Sistematis       :  Asam etanoat, asam asetat
2.             Nama Alternatif        : Asam metanakarboksilat, hidrogen asetat, asam cuka
3.             Rumus Molekul        : CH3COOH
4.             Massa Molar             : 60,05 gr/mol
5.             Titik lebur                 : 16,5 C



BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1        Alat-alat yang digunakan
                      Labu didih dasar bulat
                      Kondensor leibig
                      Erlenmeyer (250 ml)
                      Gelas piala (l00 ml)
                      Gelas piala 50 ml
                      Corong pemisah
                      Gelas ukur (l00 ml)
                      Gelas ukur 10 ml
                      Gelas ukur 50 ml
                      Termometer
                      Pipet tetes
                      Penangas air
                      Mantel pemanas
                      Batang pengaduk
                      Lemari asam
                      Corong
                      Pipet gondok
3.2       Bahan-bahan yang digunakan
                      Etanol (C2H5OH 96%)
                      Asam sulfat pekat (H2S04)
                      Asam asetat (CH3COOH pa)
                      Na2C03 20%
3.3       Prosedur Percobaan
1.  Ke dalam labuh didih dasar bulat,masukkan 23 ml etanol dan 11 ml asam asetat dan 3 butir batu didih.
2.             Tambahkan asam sulfat pekat 5 ml hati -hati labu digoyang sempurna dan didinginkan dalam air
3.             Labu   kemudian   disambungkan   dengan   kondensor   refluks   terbalik,panaskan campuran dengan refluks selama 70 menit.
4.             Setelah   dingin   campuran   reaksi, di destilasi sampai tidak ada lagi destilat yang menetes dan dijaga suhunya agar dibawah 780C
5.             Hasil destilat dimasukkan dalam corong pemisah, pisahkan airnya kalau ada.
6.              Cuci lapisan ester dengan dengan larutan Na2C03 20%. Hasilnya dimasukkan kedalam wadah yang telah disediakan.

3.4       Rangkaian Alat
 

Keterangan Gambar :
1.      Mantel pemanas
2.      Kondensor
3.      Statip
4.      Klem
5.      Labu didih
6.      Selang





Gambar 3.1 Rangkaian Refluks Terbalik




 

                                               

                                                                                                        Keterangan :
1.     
3
Mantel pemanas
2.      Kondensor
3.      Statip
4.      Klem
5.      Gelas piala
6.      Labu didih
7.      Selang


                                                                                                                       
Gambar 3.2 Rangkaian Proses Destilasi











BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perhitungan dan Hasil Pengamatan
ü  0,2 mol asam asetat
ü  0,4 mol etanol
·         Volum dari 0,2 mol asam asetat (CH3COOH)                         
Massa  CH3COOH       = mol x Mr                                                      
                                                = 0,2 x  60                                                                                                                   = 12 g
            Volum CH3COOH       =                                                    
                                      =
                                      = 11,4 ml      
·         Volum dari 0,4 mol etanol (CH3CH2OH)                                                                    
Massa CH3CH2OH       = mol x Mr
= 0,4 x 46
= 18,4 g
            Volum CH3CH2OH      =       
                                                =
                                                = 23 ml



·         Volume etil asetat Stoikiometri
            CH3COOH       +     CH3CH2OH     D  CH3COOCH2CH3    +    H2O
       m         0,2                   0,4
            b           0,2                  0,2                               0,2
             s     -                           0,2                               0,2
massa etil asetat           = mol x Mr
= 0,2 x 88
                                    =17,6 g
Volum etil asetat          =
                                                =
                                                = 19,6 ml
            Volum etil astet sebelum dicuci = 11 ml
            Volum etil asetat setelah dicuci (ditambahkan Na2CO3 20%) = 11 ml
            Suhu uap destilat 75 0C
Hasil rendemen           =  x 100%
                                                =   x 100%
                                                = 56,12%



4.1 Pembahasan
Percobaan ini adalah esterifikasi dalam skala labor, yaitu pembuatan etil asetat menggunakan asam asetat dengan etanol dan ditambahkan asam sulfat pekat sebagai katalis. 11 ml asam asetat dicampurkan dengan 23 ml di dalam labu didih dasar bulat yang sebelumnya telah diisi dengan 3 buah batu didih. Fungsi batu didih ini adalah untuk menghomogenkan campuran dan gelembung yang dihasilkan bisa sebagai pengaduk. Setelah dicampurkan antara asam asetat dan etanol, ditambahkan lagi 5 ml asam sulfat pekat sebagai katalis, penambahan ini dilakukan perlahan-lahan sambil digoyang-goyang dengan keadaan tertutup aluminium foil didalam penangas air. Hal ini dilakukan  untuk menghindarkan dari panas yang dihasilkan asam tersebut yang bersifat eksoterm sehingga labu didih tidak pecah dan dalam keadaan tertutup supaya saat bereaksi tidak ada produk yang menguap.
Setelah dingin semua campuran di refluks selama 70 menit menggunakan refluks terbalik dan dijaga suhunya agar tetap konstan antara 74-760C. Maksud dari refluks terbalik ialah larutan yang menguap dari labu didih akan masuk ke kondensor, dan akan kembali lagi ke labu didih. Jika suhu terlalu rendah maka reaksi tidak akan sempurna dan jika suhu terlalu tinggi, maka etanol akan menguap, karena titik didih etanol adalah 78, maka didapatlah ester yang belum murni dengan karakteristiknya yaitu mempunyai bau khas (seperti bau balon anak-anak).
Kemudian dilakukan destilasi sampai tidak ada lagi destilat yang menetes dan suhu dijaga agar kurang dari 780C, karena jika 780C atau pun lebih dari itu maka etanol akan ikut menguap bersama etil asetat. Selain itu juga dilakukan pengukuran suhu uapnya. Setelah tidak ada lagi destilat yang menetes proses dihentikan dan diperoleh hasil etil asetat sebanyak 11 ml. Langkah berikutnya melakukan pencucian dengan Na2CO3 20% menggunakan corong pemisah. Hasil dari langkah ini seharusnya terbentuk 2 lapisan antara natrium karbonat dengan estil asetat yang didapat karena perbedaan massa jenis kedua senyawa tersebut. Tetapi, pada percobaan ini, tidak terbentuk lapisan apapun dan hasil dari corong pemisah tetap sama dengan yang awal. Oleh karena itu, langkah kerja dihentikan sampai tahap ini. Ada beberapa factor yang menyebabkan tidak terbentuknya lapisan antara ester dan natrium karbonat, yaitu
·         Pengenceran menggunakan akuades yang sudah lama dan tidak bersih lagi
·         Ketidakakuratan dalam melakukan pengukuran dalam pengambilan sampel seperti Na2CO3 sehingga konsentrasinya kecil dan tidak terlalu memengaruhi dalam pencucian
·         Na2CO3 tidak langsung ditutup setelah dilarutkan sehingga larutan tersebut teroksidasi
·         Pemisahan menggunakan corong pemisah ini berdasarkan prinsip perbedaan massa jenis dan sifat polar-non polar suatu senyawa,Massa jenis Na2CO3 yanag telah berubah mendekati massa jenis etil asetat yang terbentuk sehingga ketika disaring kedua senyawa tersebut tidak berpisah
Hasil etil asetat yang diperoleh jauh dari perkiraan stoikiometri yaitu 11 ml dan 19,6 ml. Rendemennya sebesar 56,12%. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab :
1.      Wadah yang berpindah-pindah mnyebabkan masih ada etil asetat yang tertinggal dari wadah satu ke wadah berikutnya
2.      Rangkaian destilasi yang tidak terlalu rapat.
3.      Reaksi esterifikasi ini terjadi reaksi secara reversibel. Sehingga sulit untuk mendapatkan hasil dengan rendemen yang besar. Karena adanya H2O sebagai hasil samping maka etil asetat akan mengalami reaksi hidrolisis. Hasil reaksi hidrolisis ini berupa asam asetat dan etanol. Jadi, sebelum reaksi esterifikasi berakhir, etil asetat telah mengalami reaksi hidrolisis membentuk asam asetat dan etanol kembali.
Hal ini menyebabkan etil asetat yang diperoleh tidak murni, masih terdapat air dan juga pengotor-pengotor lainnya dan bisa saja etanol masih terdapat di produk hasil. Selain itu dalam percobaan ini tidak dilakukan pengeringan dengan CaCl2 seperti seharusnya.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.            Kesimpulan
1.      Etil Asetat yang diperoleh dari praktikum sebesar 11 ml
2.      Hasil rendemen dari etil asetat adalah 56,12%

5.2.            Saran
1.      Supaya mendapatkan etil asetat yang besar perlu ditambahkan konsentrasi dari reaktan
2.      Selama proses refluks dan destilasi, suhu dijaga agar tetap berkisar 74-760C karena jika diatas suhu tersebut, etanol akan ikut menguap dan terkondensasi juga bergabung dengan etil asetat yang diperoleh  sehingga tidak sesuai dengan yang diharapkan
3.      Jika kita menginginkan waktu esterifikasi yang tidak terlalu lama bisa menggunakan jumlah mol yang kecil, karena semakin besar mol  asam asetat maupun etanol yang digunakan dalam membuat etil asetat semakin lama waktu yang diperlukan dalam esterifikasi  tetapi semakin besar  rendemen yang bisa diperoleh.



DAFTAR PUSTAKA

Abraham, 2010, Penuntun Kimia Organik II.,Universitas Haluoleo, Kendari
Anonim,2011,laporankimiaorganik,http://himka1polban.wordpress.com/laporan kimia organik/laporan esterifikasi atau-sintesis-n-butil-asetat,28 Februari 2013.
Anonim, 2009, CIC, http://anekailmu.blogspot.com/2009/03/info-singkat-industri-etil-asetat.html/, 28 Februari 2013.
Anonim,2010,esterifikasi,http://lab.tekim.undip.ac.id/proses/2010/03/05/esterifikasi/,28 Februari 2013.
Carey, F, 1993, Advanced Organic Chemistry Part B, Reaction a Syntesis,Plenum Press, London
Clark, Jim, 2007, Pembuatan ester, http://www.chem-is-try.org/materi kimia/sifat senyawa organik/ester 1/pembuatan ester/, 4 Maret 2013.
Fessenden, Ralph J dan Joan S.  Fessenden, 1982, Kimia Organik, Jakarta ,Erlangga.
Irdoni, HS & Nirwana, HZ,2013,Modul Praktikum Kimia Organik. Laboratorium Teknologi Bahan Alam & Mineral Teknik Universitas Riau, 27-28.

Riswiyanto, 2009, Kimia Organik, Jakarta, Erlangga, 298-299